.png)
Bagi orang Indonesia yang tinggal di Jepang, mengirim makanan dari tanah air sering menjadi cara untuk mendapatkan makanan yang sulit ditemukan di Jepang.
Rasanya sederhana: beli makanan, masukkan ke kardus, lalu kirim.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Ada makanan yang terlihat biasa saja di Indonesia, tetapi ternyata membutuhkan perhatian khusus ketika akan dikirim ke Jepang. Penyebabnya bukan semata-mata karena makanan tersebut “dilarang”, melainkan karena aturan impor suatu negara dapat mempertimbangkan jenis bahan yang terdapat di dalam produk.
Masalahnya kadang bukan pada nama makanannya
Contohnya, seseorang mungkin mengatakan:
“Ini kan cuma makanan ringan.”
Namun, makanan ringan tersebut bisa saja mengandung bahan tertentu yang membuatnya perlu diperiksa lebih lanjut.
Hal yang sama berlaku pada makanan olahan. Nama produk saja belum tentu cukup untuk mengetahui apakah makanan tersebut dapat dikirim. Komposisi atau bahan yang digunakan juga dapat menjadi pertimbangan.
Karena itu, melihat label kemasan jauh lebih berguna daripada hanya mengandalkan nama makanan.
Makanan buatan sendiri juga berbeda dengan produk pabrik
Makanan yang dibuat sendiri biasanya tidak mempunyai label komposisi seperti produk yang dijual di toko.
Akibatnya, informasi mengenai bahan yang digunakan bisa lebih sulit diverifikasi.
Misalnya seseorang membuat makanan untuk keluarganya di Jepang, kemudian memasukkannya ke dalam wadah dan mengirimkannya. Dari sisi pengirim mungkin terlihat tidak ada masalah.
Tetapi dari sisi pemeriksaan, pertanyaan seperti “isinya apa?” dan “mengandung bahan apa?” tetap bisa muncul.
Lalu, makanan seperti apa yang lebih mudah diperiksa?
Secara umum, produk makanan dengan kemasan pabrik yang masih utuh dan informasi produknya jelas akan lebih mudah untuk diidentifikasi.
Bukan berarti semua produk seperti itu otomatis dapat dikirim. Tetap diperlukan pemeriksaan berdasarkan jenis makanan dan ketentuan yang berlaku.
Namun, setidaknya informasi mengenai produk lebih mudah diketahui.
Jangan menunggu sampai paket sudah dikirim
Kesalahan yang cukup merepotkan adalah baru mencari tahu aturan setelah paket berangkat.
Sebelum mengemas makanan, lebih baik buat daftar seluruh isi paket terlebih dahulu.
Tuliskan nama produknya dan, bila diperlukan, periksa komposisinya. Jika ada makanan yang diragukan, pisahkan dulu daripada langsung memasukkannya ke dalam kardus.
Intinya
Mengirim makanan ke Jepang bukan hanya persoalan apakah makanan tersebut populer atau umum dikonsumsi di Indonesia.
Yang perlu diperhatikan adalah jenis makanan, bahan yang terkandung di dalamnya, kondisi kemasan, serta ketentuan yang berlaku di negara tujuan.
Jadi, sebelum berkata “ini cuma makanan biasa”, ada baiknya melihat isi dan labelnya terlebih dahulu. Bisa jadi justru bagian kecil dari komposisinya yang menentukan bagaimana makanan tersebut diperlakukan saat masuk ke Jepang.
Komentar
Posting Komentar